Penulis: Joy dan Belva
Mentok, Bangka Barat — Di saat arus penumpang dan kendaraan meningkat, Pelabuhan Penyeberangan ASDP Cabang Bangka di Tanjung Kalian justru menghadirkan wajah negara yang tenang dan terukur. Tidak ada sirene berlebihan, tidak pula ketegangan yang mencolok. Yang terlihat adalah keteraturan yang bekerja dalam senyap. Penyeberangan laut sebagai urat nadi sosial dan ekonomi masyarakat kepulauan, tetap berlangsung aman, tertib dan manusiawi berkat sinergi konsisten antara Polres Bangka Barat dan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bangka.
Peningkatan arus penyeberangan yang tercatat berada di kisaran 5 hingga 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi fakta utama yang menandai dinamika tersebut. Angka ini merefleksikan bergeraknya kembali kehidupan sosial dan ekonomi, perjalanan keluarga, mobilitas kerja, hingga arus perdagangan antarwilayah. Namun lonjakan ini tidak berujung pada kepadatan tak terkendali. Pelabuhan tetap beroperasi dalam batas normal, jadwal terjaga dan keamanan terkonsolidasi dengan baik.
Inti dari peristiwa ini bukan pada besarnya angka kenaikan, melainkan pada kepastian bahwa pelayanan publik tidak terganggu. Peningkatan arus tidak berbanding lurus dengan meningkatnya risiko, karena telah diantisipasi melalui pengamanan terpadu, pengaturan operasional yang presisi, serta pemanfaatan sistem digital yang disiapkan jauh hari sebelumnya.
Kapolres Bangka Barat, AKBP Aditya Pradana Nugraha, S.Ik., menegaskan bahwa dinamika penyeberangan bukan situasi darurat, melainkan siklus sosial masyarakat yang telah dipetakan.
“Kami memandang peningkatan arus ini sebagai bagian dari aktivitas sosial masyarakat. Karena itu, pengamanan dan pengaturan difokuskan agar penyeberangan tetap tertib, aman, dan tidak menimbulkan kepadatan berlebihan,” ujarnya, Minggu (21/12/2025).
Pernyataan tersebut menunjukkan paradigma pengamanan yang tidak reaktif, melainkan preventif dan sistemik. Di lapangan, pendekatan ini diterjemahkan melalui pengaturan lalu lintas kendaraan menuju pelabuhan, pengawasan antrean penumpang, serta koordinasi intensif dengan manajemen ASDP. Fokus utama diarahkan pada kepastian jadwal keberangkatan terhadap faktor krusial dalam mencegah akumulasi massa.
Pemanfaatan sistem tiket online menjadi pilar penting dalam menjaga ketertiban. Dengan sistem ini, penumpang telah mengetahui jadwal keberangkatan sebelum tiba di pelabuhan. Teknologi tidak sekadar berfungsi administratif, melainkan membentuk disiplin sosial dan pola kedatangan yang lebih tertib.
Untuk mengantisipasi penumpang dan kendaraan yang datang lebih awal, Polres Bangka Barat bersama ASDP menyiapkan buffer zone di sekitar pelabuhan. Area ini difungsikan sebagai ruang tunggu yang tertib dan nyaman, dilengkapi pos pelayanan, sehingga arus masuk ke area inti pelabuhan tetap terkendali. Pendekatan ini menunjukkan wajah pengamanan yang manusiawi mengatur tanpa menekan.
Dari sisi operator, General Manager ASDP Cabang Bangka, Agustinus, menjelaskan bahwa peningkatan arus telah dibaca sejak awal dan dijawab melalui penguatan operasional.
“Memang ada peningkatan sekitar lima sampai sepuluh persen dibanding tahun lalu. Tetapi sampai hari ini kondisinya masih normal dan terkendali. Seluruh aktivitas berada di area pelabuhan dan kapal beroperasi sesuai prosedur,” ujarnya.
Stabilitas ini tidak lahir secara spontan. ASDP Cabang Bangka menjalin koordinasi aktif dengan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) sebagai regulator transportasi darat dan penyeberangan, serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP/KAISOP) dalam aspek keselamatan kapal. Sinergi lintas institusi ini memastikan setiap kapal yang berangkat memenuhi standar teknis dan keselamatan yang ditetapkan negara.
Untuk mengurai antrean dan mempercepat layanan, ASDP memprioritaskan pengoperasian kapal berkapasitas besar. Strategi ini memungkinkan lebih banyak penumpang dan kendaraan diangkut dalam satu perjalanan. Namun efisiensi tidak pernah melampaui batas keselamatan.
“Jika kapal sudah melebihi kapasitas, maka tidak akan kami berangkatkan. Keselamatan penumpang adalah prioritas utama,” tegas Agustinus.
Aspek keamanan di pelabuhan dan di atas kapal juga dijaga melalui kehadiran petugas ASDP yang mobile dan bersinergi dengan personel kepolisian. Penumpang terus diimbau menjaga barang bawaan masing-masing. Keamanan diposisikan sebagai tanggung jawab kolektif, bukan sekadar urusan aparat.
Transformasi layanan diperkuat dengan penerapan sistem tiket elektronik berbasis aplikasi Ferizy atau VDC. Sistem ini menyesuaikan kuota tiket secara otomatis dengan kapasitas kapal, mencegah potensi kelebihan muatan sejak tahap pemesanan. Penumpang juga diingatkan untuk teliti memilih tanggal, jam, dan pelabuhan tujuan, karena kesalahan rute tidak dapat dikoreksi. Aturan tegas ini justru menjaga ketertiban sistem secara menyeluruh.
Dari perspektif pengamanan, langkah-langkah ASDP dinilai sebagai bagian dari sistem yang matang dan berkelanjutan. Teknologi tidak menggantikan peran manusia, melainkan memperkuat kerja aparat di lapangan.
Lebih jauh, sinergi Polres Bangka Barat dan ASDP Cabang Bangka tidak hanya dimaknai sebagai kerja teknis pengamanan, tetapi sebagai pelayanan publik yang berorientasi pada stabilitas sosial. Di tengah mobilitas tinggi perjalanan keluarga, kepentingan ekonomi, dan dinamika akhir tahun kehadiran negara melalui layanan transportasi yang aman dan tertib menjadi fondasi ketenangan publik.
Bagi penumpang, semua itu hadir dalam bentuk antrean yang rapi, jadwal yang pasti, dan suasana pelabuhan yang kondusif. Namun di balik keteraturan tersebut, terdapat kerja sunyi lintas institusi: aparat kepolisian yang berjaga, petugas ASDP yang mengatur ritme layanan, regulator yang memastikan kepatuhan, serta sistem digital yang mengikat semuanya dalam satu alur kerja.
Pelabuhan tidak lagi sekadar ruang transit, melainkan ruang sosial tempat negara diuji kehadirannya. Ketika arus meningkat dan potensi gesekan membesar, pengaturan yang terukur dan manusiawi menjadi kunci. Keberhasilan mengelola kenaikan arus 5–10 persen ini bukan sekadar soal logistik, tetapi soal kepercayaan publik terhadap negara.
Bagi masyarakat kepulauan, laut adalah jalur harapan. Di atas gelombang itulah kehidupan bergerak. Ketika penyeberangan berjalan aman dan tertib, negara tidak perlu banyak bicara. Ia hadir melalui keteraturan yang dirasakan nyata, senyap dan bekerja.
Tags:
Berita



